Nostalgia 10 HP Android Legendaris yang Mengubah Arah Industri

Teknologi83 Views

Nostalgia 10 HP Android Legendaris yang Mengubah Arah Industri Perjalanan Android tidak dibangun hanya melalui pembaruan sistem operasi. Perangkat keras dari berbagai produsen turut menentukan bentuk ponsel yang digunakan masyarakat saat ini. Layar besar, kamera majemuk, perintah suara, bodi tahan air, pengeras suara depan, serta desain layar melengkung pernah dianggap sebagai eksperimen berani sebelum akhirnya diterima luas.

Kisah itu bermula pada 2008 saat T Mobile G1 hadir bersama Android 1.0 dan Android Market. Dalam waktu kurang dari satu dekade, persaingan produsen melahirkan ponsel yang tidak hanya lebih cepat, tetapi juga memperkenalkan kebiasaan baru dalam memotret, menonton, mencatat, dan berkomunikasi.

Daftar berikut tidak disusun berdasarkan angka penjualan semata. Pemilihannya mempertimbangkan keberanian desain, fitur yang kemudian ditiru banyak produsen, serta kedudukan perangkat tersebut dalam perjalanan Android.

1. HTC Dream Membuka Pintu bagi Android

HTC Dream, yang dipasarkan sebagai T Mobile G1 di sejumlah negara, menjadi ponsel komersial pertama dengan sistem operasi Android. Perangkat ini diumumkan pada September 2008 dan mulai beredar bersama Android 1.0 serta toko aplikasi Android Market.

Bentuk HTC Dream terlihat sangat berbeda dibandingkan ponsel Android sekarang. Layarnya dapat digeser untuk memperlihatkan papan ketik QWERTY fisik. Pengguna juga mengendalikan perangkat menggunakan layar sentuh, tombol fisik, dan trackball.

Keterbatasannya cukup banyak. Android 1.0 belum memiliki papan ketik virtual, perekaman video, navigasi belokan demi belokan, maupun dukungan NFC. Namun, perangkat ini sudah membawa bilah notifikasi yang dapat ditarik dari atas layar, kemampuan berpindah antar aplikasi, layanan Gmail, Google Maps, dan toko untuk mengunduh aplikasi tambahan.

Hal terpenting dari HTC Dream bukan spesifikasinya. Ponsel ini membuktikan bahwa Android dapat digunakan sebagai sistem operasi komersial yang terbuka bagi produsen dan pengembang aplikasi.

“HTC Dream mungkin terlihat kaku menurut ukuran sekarang, tetapi dari perangkat inilah persaingan Android benar benar dimulai.”

2. Samsung Galaxy S Membawa Super AMOLED ke Pasar Luas

Samsung Galaxy S diperkenalkan secara global pada 2010 dengan layar Super AMOLED berukuran 4 inci dan prosesor 1 GHz. Ukuran layar tersebut saat itu dianggap besar, terutama ketika banyak telepon pintar masih menggunakan panel di bawah 4 inci.

Super AMOLED menjadi bagian penting dari identitas Samsung. Panel ini menyatukan lapisan sentuh dengan layar sehingga bentuk perangkat dapat dibuat lebih tipis. Warna terlihat kuat, bagian hitam tampil pekat, dan tingkat kontrasnya menarik perhatian pengguna yang mulai banyak menonton video melalui ponsel.

Galaxy S juga menjadi landasan bagi keluarga perangkat premium Samsung. Seri tersebut kemudian berkembang menjadi Galaxy S II, Galaxy S III, dan generasi lain yang membantu Samsung menempati posisi besar dalam industri ponsel Android.

Pada masanya, Galaxy S memperlihatkan bahwa ponsel Android dapat menjadi produk premium, bukan hanya pilihan bagi pengguna yang menginginkan perangkat murah atau gemar melakukan modifikasi sistem.

Keberhasilan perangkat ini turut membuat teknologi AMOLED semakin dikenal. Panel serupa kemudian digunakan pada banyak ponsel kelas atas dan menengah dari berbagai merek.

3. Samsung Galaxy Note Membuat Layar Besar Terasa Normal

Galaxy Note pertama diperkenalkan pada 2011 dengan layar HD Super AMOLED berukuran 5,3 inci. Samsung juga menyertakan S Pen yang dapat digunakan untuk menulis, menggambar, memilih bagian layar, dan membuat catatan.

Ukuran 5,3 inci sempat menimbulkan keraguan. Pada masa itu, perangkat dengan layar sebesar itu dianggap terlalu lebar untuk disebut ponsel dan terlalu kecil untuk menggantikan tablet. Istilah phablet kemudian digunakan untuk menggambarkan posisinya.

Galaxy Note justru berhasil menemukan kelompok pengguna tersendiri. Layar luas memudahkan penayangan halaman web, video, dokumen, dan peta. S Pen membuat perangkat dapat digunakan sebagai buku catatan elektronik yang selalu berada di saku.

Samsung mencatat penjualan Galaxy Note mencapai lima juta unit dalam beberapa bulan. Seri ini kemudian berkembang menjadi salah satu keluarga produk terpenting Samsung.

Produsen lain mulai memperbesar layar setelah melihat penerimaan pasar. Layar di atas 5 inci akhirnya berubah dari sesuatu yang aneh menjadi ukuran umum. Samsung sendiri menyebut Galaxy Note membantu menjadikan layar besar sebagai standar industri.

4. Sony Xperia Z Membawa Ketahanan Air ke Ponsel Premium

Sony Xperia Z diperkenalkan pada awal 2013 sebagai ponsel premium dengan layar Full HD 5 inci, bodi kaca, serta perlindungan terhadap air dan debu. Perangkat ini memenuhi sertifikasi IP55 dan IP57 apabila seluruh penutup port terpasang dengan benar.

Ketahanan air sebelumnya lebih sering ditemukan pada perangkat khusus untuk pekerja lapangan atau ponsel dengan bodi tebal. Xperia Z menggabungkannya dengan bentuk tipis, permukaan kaca, kamera 13 megapiksel, serta spesifikasi kelas atas.

Sony bahkan menggunakan ketahanan air sebagai bagian utama pemasaran. Perangkat diperlihatkan tetap berfungsi setelah terkena air, sesuatu yang mudah menarik perhatian ketika perlindungan semacam itu belum menjadi kelengkapan umum.

Pilihan Sony ikut mengubah harapan konsumen terhadap ponsel premium. Ketahanan terhadap hujan, tumpahan minuman, dan kejadian tidak terduga mulai dilihat sebagai perlindungan yang seharusnya tersedia pada perangkat mahal.

Produsen lain kemudian semakin banyak menawarkan sertifikasi IP pada produk kelas atas. Xperia Z juga memperkuat gaya desain simetris Sony yang menggunakan permukaan kaca pada bagian depan dan belakang.

5. HTC One M7 Mengangkat Standar Bodi dan Audio

HTC One yang diperkenalkan pada Februari 2013 menggunakan bodi aluminium dengan konstruksi tanpa celah, layar Full HD 4,7 inci, dan dua pengeras suara stereo yang menghadap langsung ke pengguna.

Pada masa itu, banyak ponsel Android masih menggunakan bagian belakang plastik yang dapat dilepas. HTC mengambil pendekatan berbeda dengan membangun perangkat dari logam dan memberikan perhatian besar pada pengerjaan bodi.

Dua pengeras suara depan menjadi unsur yang sangat disukai. Suara tidak diarahkan ke belakang atau ke bagian bawah, sehingga lebih jelas ketika pengguna menonton video dan memainkan gim. HTC menyatakan BoomSound menjadi penerapan pertama pengeras suara stereo depan dengan penguat khusus pada ponsel.

HTC One juga memperkenalkan BlinkFeed untuk menampilkan pembaruan dalam susunan kartu pada layar utama. Kamera UltraPixel mengutamakan ukuran piksel yang lebih besar daripada mengejar jumlah megapiksel tinggi.

Tidak seluruh keputusan tersebut bertahan lama, tetapi gabungan bodi logam, layar tajam, dan pengeras suara depan membuat HTC One menjadi salah satu ponsel Android yang paling mudah dikenali pada 2013.

6. Moto X Memperkenalkan Ponsel yang Selalu Siaga

Moto X generasi pertama tidak mengejar angka prosesor tertinggi. Motorola lebih berfokus pada cara perangkat berinteraksi dengan pengguna melalui Touchless Control, Active Display, dan gerakan untuk membuka kamera.

Touchless Control memungkinkan pengguna memanggil Google Now dengan mengucapkan “OK Google Now” tanpa menyentuh perangkat. Sistem dilatih untuk mengenali suara pemilik dan dapat digunakan untuk memeriksa cuaca, membuat panggilan, mencari arah, atau melakukan pencarian.

Active Display menampilkan waktu dan pemberitahuan pada bagian tertentu dari layar AMOLED tanpa menyalakan seluruh panel. Pengguna dapat melihat informasi penting dengan konsumsi energi yang lebih kecil dibandingkan membuka layar kunci sepenuhnya.

Motorola juga menyediakan Moto Maker yang memungkinkan pembeli menentukan warna bagian depan, belakang, dan aksen. Pilihan personalisasi semacam itu jarang diberikan oleh produsen besar pada saat tersebut.

Berbagai gagasan Moto X kemudian terasa akrab pada ponsel modern. Layar yang terus menampilkan informasi, perintah suara ketika perangkat terkunci, dan gerakan cepat untuk membuka kamera kini tersedia dalam banyak bentuk.

7. LG G2 Memindahkan Tombol ke Bagian Belakang

LG G2 diperkenalkan pada Agustus 2013 dengan keputusan desain yang tidak biasa. Tombol daya dan pengatur volume dipindahkan dari sisi bodi menuju bagian belakang, tepat di bawah kamera.

LG mengambil keputusan tersebut setelah mempelajari kesulitan pengguna menjangkau tombol samping ketika ukuran ponsel semakin besar. Posisi belakang dibuat agar jari telunjuk dapat langsung menyentuh tombol saat perangkat digenggam.

G2 juga menggunakan layar Full HD 5,2 inci dengan bezel sangat tipis. LG berhasil memasukkan layar besar ke dalam bodi yang masih cukup nyaman digenggam. Kapasitas baterainya mencapai 3.000 mAh, angka yang tergolong besar untuk ponsel premium saat itu.

Perangkat ini turut memperkenalkan KnockON, fitur untuk menyalakan layar dengan mengetuknya dua kali. LG kemudian memperluas fitur tersebut ke perangkat lain karena mendapat tanggapan positif dari pengguna.

Tombol belakang tidak menjadi standar industri, tetapi desain bezel tipis dan ketukan ganda untuk membangunkan layar bertahan dalam berbagai perangkat hingga sekarang.

8. Samsung Galaxy S6 Edge Membuat Layar Melengkung Terlihat Mewah

Samsung Galaxy S6 Edge diluncurkan pada 2015 dengan layar Quad HD Super AMOLED yang melengkung pada sisi kiri dan kanan.

Sebelumnya, Samsung telah memakai layar melengkung pada Galaxy Note Edge, tetapi hanya pada satu sisi. Galaxy S6 Edge membuat lengkungan tersebut lebih simetris dan menjadikannya bagian utama dari penampilan perangkat.

Bagian tepi dapat menampilkan kontak pilihan, pemberitahuan berwarna, dan akses cepat. Kegunaannya masih terbatas, tetapi desainnya menciptakan kesan berbeda ketika sebagian besar ponsel memiliki layar datar.

Samsung juga meninggalkan bodi plastik dan memakai perpaduan bingkai logam serta kaca. Perubahan tersebut memberi keluarga Galaxy S kesan yang lebih premium. Perangkat ini sekaligus membawa pengisian nirkabel terintegrasi yang mendukung dua standar pada masa itu.

Setelah Galaxy S6 Edge, layar dengan sisi melengkung banyak muncul pada perangkat Android kelas atas. Sebagian produsen kemudian kembali memilih layar datar, tetapi pengaruh desain tersebut bertahan selama beberapa generasi.

9. Google Pixel Menyatukan Kamera dan Kecerdasan Perangkat Lunak

Google meluncurkan Pixel dan Pixel XL pada Oktober 2016 sebagai ponsel pertama yang sepenuhnya memakai merek perangkat keras Google. Keduanya juga menjadi ponsel pertama dengan Google Assistant yang terpasang sejak awal.

Pixel tidak membawa jumlah kamera yang banyak. Keunggulannya terletak pada pemrosesan gambar melalui perangkat lunak, terutama HDR Plus. Sistem menggabungkan beberapa gambar untuk memperoleh rentang cahaya lebih baik, mengurangi gangguan visual, dan mempertahankan detail.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas kamera ponsel tidak hanya ditentukan ukuran sensor dan jumlah megapiksel. Algoritma dapat memperbaiki hasil secara besar tanpa memerlukan susunan perangkat keras yang rumit.

Pixel juga memperoleh pembaruan Android langsung dari Google. Perangkat ini menjadi acuan untuk memperlihatkan hubungan antara Android, layanan Google, kamera, dan kecerdasan perangkat lunak.

“Pixel pertama membuktikan bahwa persaingan kamera tidak selalu dimenangkan oleh perangkat dengan jumlah lensa terbanyak. Perangkat lunak dapat menjadi pembeda yang sama pentingnya dengan sensor.”

10. Huawei P20 Pro Memulai Gelombang Kamera Tiga Lensa

Huawei P20 Pro diperkenalkan di Paris pada Maret 2018 dengan sistem kamera belakang Leica yang terdiri atas tiga kamera.

Susunannya terdiri atas kamera utama berwarna, kamera monokrom, dan kamera telefoto. Setiap kamera mempunyai tugas berbeda, kemudian hasilnya dipadukan melalui pemrosesan perangkat lunak.

Huawei juga menonjolkan kemampuan fotografi malam. Perangkat dapat mengambil gambar dengan pencahayaan panjang sambil mengurangi gerakan melalui bantuan kecerdasan buatan. Fitur Master AI mengenali ratusan keadaan dan menyesuaikan pengaturan kamera secara otomatis.

P20 Pro mengubah arah persaingan kamera Android. Setelah peluncurannya, penggunaan tiga kamera belakang berkembang pesat. Produsen mulai menggabungkan kamera utama dengan telefoto, ultrawide, kamera kedalaman, atau sensor khusus lain.

Perangkat ini juga membantu Huawei memperoleh pengakuan kuat dalam kelompok ponsel premium. Desain warna gradasi Twilight menjadi ciri visual yang banyak diperbincangkan dan kemudian diikuti oleh berbagai produsen.

Kamera majemuk sekarang menjadi kelengkapan umum, bahkan pada perangkat yang jauh lebih murah. Jejak P20 Pro masih terlihat melalui cara produsen membagi fungsi fotografi ke beberapa lensa, lalu menyatukan hasilnya melalui perangkat lunak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *