Reza Arap Sukses Bikin Harusnya Horror, Debut Sutradara yang Berani Beda

Infotainment106 Views

Reza Oktovian atau Reza Arap akhirnya membawa proyek layar lebar pertamanya sebagai sutradara ke bioskop lewat Harusnya Horror. Film komedi horor tersebut mulai tayang serentak di Indonesia pada 20 Agustus 2026 setelah melewati proses produksi panjang, kampanye promosi yang ramai, gala premiere, serta rangkaian special screening di berbagai kota. Cinema XXI mencatat film ini berdurasi 1 jam 46 menit dan menempatkannya dalam kategori comedy dan horror.

Keberhasilan Reza dalam proyek ini untuk sementara lebih tepat dilihat dari kemampuannya menuntaskan film layar lebar, membawa teman teman yang sebelumnya dikenal melalui dunia digital ke dunia akting, serta membangun antusiasme menjelang penayangan reguler. Angka penonton akhir tentu belum dapat digunakan sebagai ukuran karena film baru memasuki hari penayangan nasional pada 20 Agustus 2026.

Indikasi awalnya cukup menjanjikan. Roadshow special screening yang berlangsung di Bandung, Karawang, Cirebon, Semarang, Yogyakarta dan Solo pada 16 sampai 20 Agustus dilaporkan ludes terjual. Ratusan penggemar juga memenuhi kegiatan bersama pemain di Jogja City Mall sehari sebelum penayangan nasional.

Bagi Reza, film tersebut membuka wilayah baru setelah bertahun tahun dikenal sebagai kreator digital, streamer dan musisi. Kali ini ia tidak hanya muncul di depan kamera, tetapi memegang tanggung jawab sebagai sutradara sekaligus pemeran utama.

Harusnya Horror Menjadi Debut Besar Reza Arap di Kursi Sutradara

Perjalanan Harusnya Horror sebenarnya telah dimulai sejak 2025. Ketika produksi diumumkan, proyek tersebut langsung menarik perhatian karena Reza Arap dipercaya memimpin sebuah film layar lebar meski sebelumnya belum memiliki pengalaman menyutradarai film panjang.

RRI mencatat proses syuting mulai berlangsung pada Agustus 2025. Ess Jay Pictures membawa Reza sebagai sutradara sekaligus pemain dan menggandeng Rahabi Mandra serta Syahrun Ramadhan untuk mengembangkan skenario. David Suwarto, Sridhar Jetty dan Jimmy Lalwani berada di jajaran produser proyek tersebut.

Bagi Reza, perpindahan menuju kursi sutradara bukan sekadar mengganti jenis pekerjaan. Membuat sebuah film membutuhkan koordinasi pemain, kru kamera, artistik, pencahayaan, suara, editing serta berbagai bagian lain yang harus bergerak menuju visi yang sama.

Reza sendiri mengakui bahwa proyek tersebut digunakan untuk mencoba kemampuan baru. Dalam konferensi pers pada 13 Agustus 2026, ia mengatakan tujuan pribadinya adalah mengeksplorasi kemampuan yang selama ini belum banyak digunakan sekaligus memberikan ruang kepada rekan rekannya untuk mencoba akting secara serius.

“Menurut penulis, keberanian terbesar Reza Arap pada Harusnya Horror bukan hanya menerima posisi sutradara, tetapi membawa identitas kreatif yang selama ini hidup di internet menuju medium film panjang yang mempunyai aturan produksi jauh lebih kompleks.”

Ide Film Lahir dari Persahabatan yang Sudah Terlihat di Dunia Digital

Harusnya Horror tidak dibangun dengan mengumpulkan pemain yang sama sekali asing satu sama lain. Salah satu kekuatan awal proyek ini justru berasal dari kedekatan para anggota AAAClan dan lingkungan Marapthon yang sudah terbentuk sebelum kamera film mulai merekam.

Produser Jimmy Lalwani menjelaskan bahwa gagasan membuat film antara lain muncul setelah dirinya melihat Marapthon musim kedua di media sosial. Ia melihat kekuatan hubungan dan chemistry kelompok tersebut, kemudian muncul pemikiran untuk memberikan kesempatan kepada mereka membuat film layar lebar.

Pendekatan semacam ini memberi Reza modal yang tidak kecil.

Ia mengenal karakter orang orang yang diarahkan. Para pemain juga sudah mengetahui kebiasaan satu sama lain. Kedekatan tersebut kemudian dipindahkan ke film yang memang banyak berbicara tentang sekelompok kreator dan persahabatan mereka.

Namun kedekatan pribadi tidak otomatis menghasilkan akting yang baik. Anggota AAAClan tetap harus mempelajari bagaimana gerak tubuh, dialog dan respons mereka bekerja ketika ditempatkan dalam adegan yang telah direncanakan.

Reza justru melihat minimnya pengalaman tersebut sebagai ruang yang menarik. Ia pernah menjelaskan bahwa teman temannya terus bertanya dan memiliki keinginan besar untuk belajar sehingga proses pengarahan terasa lebih mudah daripada perkiraannya.

Setan Wibu Penakut Menjadi Pusat Cerita yang Sengaja Dibuat Absurd

Harusnya Horror tidak menawarkan hantu yang langsung dirancang sebagai sosok paling menyeramkan. Premisnya bergerak ke arah sebaliknya.

Reza Arap memerankan sosok bernama Mas, seorang penggemar anime yang meninggal sebelum sempat menyaksikan episode terakhir serial favoritnya. Setelah menjadi hantu, ia masih menyimpan keinginan besar untuk mengetahui akhir anime tersebut.

Mas kemudian mendapatkan tugas yang terdengar sederhana untuk ukuran hantu tetapi sangat sulit baginya. Ia harus membuat 100 ribu manusia takut dalam waktu yang ditentukan agar memperoleh kesempatan memenuhi keinginannya. Persoalannya, Mas sendiri justru mempunyai sifat penakut dan tidak pandai menakut nakuti orang.

Pada saat bersamaan muncul kelompok kreator konten yang sedang menghadapi masalah finansial. Pertemuan mereka dengan Mas tidak berakhir dengan kepanikan. Kelompok tersebut justru melihat sang hantu sebagai peluang untuk membuat konten yang dapat menarik perhatian internet.

Mas akhirnya berubah menjadi talent mereka.

Dari sini film memainkan banyak kemungkinan komedi. Hantu yang seharusnya mengejar manusia justru harus bekerja sama dengan manusia. Para kreator yang seharusnya takut malah sibuk memikirkan bagaimana sosok tersebut dapat menghasilkan konten yang ramai ditonton.

Dunia Konten Kreator Dibawa Langsung ke Cerita

Pilihan menjadikan kreator digital sebagai bagian utama cerita terasa sangat dekat dengan perjalanan Reza Arap sendiri. Ia memahami bagaimana perhatian pengguna internet dapat bergerak dengan cepat, bagaimana sebuah konten dapat menjadi viral serta bagaimana orang berlomba mendapatkan respons di platform digital.

Film kemudian menggunakan lingkungan tersebut sebagai sumber konflik dan komedi.

Kelompok kreator dalam Harusnya Horror berusaha keluar dari persoalan finansial dengan memanfaatkan kehadiran hantu. Popularitas perlahan muncul, tetapi keberhasilan tersebut membawa pilihan yang semakin rumit bagi karakter Mas.

Ia harus menentukan apakah keinginan pribadinya untuk melihat episode terakhir anime tetap menjadi hal terpenting atau hubungan yang terbentuk bersama kelompok manusia tersebut mulai memiliki nilai yang lebih besar. Sinopsis resmi promosi film memang menempatkan pilihan antara ambisi pribadi dan orang orang yang kemudian menjadi tempat nyaman bagi Mas sebagai salah satu bagian cerita.

Inilah yang membuat Harusnya Horror tidak sepenuhnya berdiri sebagai film yang hanya mengejar adegan seram.

Komedi mendapat ruang besar, tetapi cerita juga membawa persahabatan, kehilangan, cinta dan pengorbanan sebagai bagian perjalanan para karakter.

AAAClan Mendapat Pengalaman Akting Layar Lebar Pertama

Salah satu pencapaian yang paling sering dibicarakan Reza bukan posisinya sebagai sutradara, melainkan keberhasilannya membawa teman teman terdekat ke layar bioskop.

Harusnya Horror menjadi pengalaman akting layar lebar pertama bagi para anggota AAAClan. Mereka antara lain George Tierison atau Jot, Yukatheo Glen Widjaja, Garry Ang, Teguh Prakoso atau Tepe, Aldy Renaldy atau Aloy, Ariyanto atau Ibot, Niko Junius dan Bravyson.

Jajaran pemain kemudian diperluas dengan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno dan Malka Rafasya. Yoshua Marcellos juga muncul sebagai penampil khusus.

Reza pernah menyebut bahwa pencapaian terbesar yang ia rasakan justru melihat teman temannya mendapatkan kesempatan bermain film dan berakting dengan serius. Menurutnya, kesempatan tersebut memberikan ruang baru bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan yang sebelumnya belum pernah diuji melalui film panjang.

Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa Harusnya Horror terasa sangat personal bagi kelompok mereka. Proyek ini tidak hanya menjadi debut satu sutradara, tetapi debut banyak pemain sekaligus.

Kebebasan Kreatif Membuat Reza Berani Melanggar Kebiasaan Film

Salah satu hal yang berulang kali disampaikan Reza selama promosi adalah besarnya kebebasan yang diberikan Ess Jay Pictures kepadanya.

Menurut Reza, ruang tersebut membuat tim berani menggunakan teknik pengambilan gambar dan gagasan spontan yang tidak selalu mengikuti kebiasaan film pada umumnya. Ia menyebut banyak keputusan kreatif sengaja dibuat untuk memberikan karakter tersendiri kepada Harusnya Horror.

Kebebasan semacam itu mempunyai dua sisi.

Bagi sutradara debutan, kebebasan memberi kesempatan untuk membawa bahasa kreatif yang sudah ia gunakan selama bertahun tahun di internet. Humor cepat, absurditas, referensi budaya pop, gaya komunikasi antaranggota kelompok dan berbagai kebiasaan mereka tidak harus dihilangkan hanya karena berpindah ke bioskop.

Namun kebebasan juga membawa tanggung jawab. Film tetap harus mempunyai alur yang dapat diikuti penonton yang mungkin tidak mengenal AAAClan ataupun Marapthon.

Harusnya Horror karena itu berada dalam posisi menarik. Penggemar lama dapat mengenali berbagai kebiasaan dan hubungan para pemain, sedangkan penonton umum tetap membutuhkan cerita yang berdiri sendiri.

“Menurut penulis, ujian sesungguhnya bagi gaya Reza Arap adalah membuat humor internal tetap menyenangkan bagi penggemar tanpa membuat penonton baru merasa sedang melihat percakapan kelompok yang tidak mereka pahami.”

Poster Tepe Berubah Menjadi Kampanye yang Melibatkan Warganet

Strategi promosi Harusnya Horror juga menggunakan karakter internet Reza dan kelompoknya.

Salah satu contoh paling jelas muncul ketika Tepe tidak terlihat pada poster awal. Ketidakhadirannya langsung memancing pertanyaan dari penggemar. Reza kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut memang sengaja dilakukan sebagai bagian dari konsep.

Tim membagikan materi yang memungkinkan penggemar menempatkan Tepe sendiri pada poster. Warganet kemudian membuat berbagai versi dengan gaya masing masing. Respons tersebut akhirnya ikut mendorong tim merilis poster final yang benar benar menampilkan Tepe.

Cara promosi ini berbeda dari kampanye yang hanya mengunggah poster lalu menunggu respons.

Penonton justru dimasukkan ke dalam permainan. Mereka diberikan bahan, membuat versi sendiri, membagikannya dan memperluas percakapan mengenai film.

Kampanye itu juga memperlihatkan bagaimana pengalaman Reza sebagai figur internet digunakan untuk memasarkan film. Interaksi, lelucon dan respons penggemar tidak dipisahkan dari promosi, tetapi menjadi bagian dari materi promosi itu sendiri.

Lula Lahfah Menjadi Bagian Emosional yang Sangat Personal

Harusnya Horror juga memperoleh perhatian besar karena menjadi salah satu karya terakhir Lula Lahfah sebelum meninggal pada Januari 2026. Proses syuting film telah selesai sebelum Lula meninggal.

Dalam film, Lula memerankan Gea dan mempunyai hubungan penting dengan karakter Mas yang dimainkan Reza. Kehadirannya membuat perjalanan film setelah produksi selesai memiliki bobot emosional yang berbeda bagi orang orang yang terlibat.

Reza beberapa kali menyampaikan bahwa ia ingin memperlakukan keterlibatan Lula dengan hormat. Saat promosi final poster, ia mengatakan ingin menyediakan ruang khusus untuk mengenang Lula sebagai bagian dari karya tersebut.

Saat roadshow di Yogyakarta, Reza kembali menyebut Harusnya Horror sebagai salah satu karya yang menjadi peninggalan kreatif Lula dan mengatakan film tersebut tetap ingin ia rayakan.

Situasi tersebut membuat perjalanan promosi tidak sepenuhnya berisi kegembiraan menjelang rilis.

Ada kehilangan yang nyata bagi orang orang yang bekerja bersama Lula. Di saat yang sama, film yang telah mereka selesaikan bersama tetap harus bertemu penonton sebagaimana direncanakan.

Tiket Special Screening Ludes di Sejumlah Kota

Antusiasme menjelang penayangan menjadi salah satu tanda bahwa proyek Reza berhasil membangun rasa penasaran.

IDN Times melaporkan tiket special screening dalam roadshow Bandung, Karawang, Cirebon, Semarang, Yogyakarta dan Solo ludes terjual. Kegiatan di Yogyakarta sehari sebelum penayangan reguler juga dipenuhi ratusan penggemar yang datang melihat Reza dan anggota AAAClan.

Laporan lain mengenai Advance Ticket Sales juga menyebut tiket habis di sejumlah kota seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda dan Pontianak.

Data pra tayang tersebut memang belum dapat disamakan dengan jumlah penonton akhir.

Film dapat memiliki pembukaan kuat tetapi kemudian bergerak berbeda setelah ulasan penonton tersebar. Sebaliknya, sebuah film dapat membuka dengan angka biasa lalu bertahan karena rekomendasi dari mulut ke mulut.

Namun tiket screening yang habis menunjukkan bahwa Reza sudah mempunyai satu modal penting ketika memasuki hari pertama, yaitu kelompok penonton yang benar benar ingin melihat hasil pekerjaannya.

Reza Arap Berani Memasang Target 4,3 Juta Penonton

Menariknya, Reza tidak datang ke bioskop dengan target kecil. ANTARA mencatat ia pernah menyampaikan sasaran sekitar 4,3 juta penonton untuk Harusnya Horror.

Ia bahkan berkelakar akan menghapus akun Instagram pribadinya jika film tersebut tidak mencapai satu juta penonton.

Target 4,3 juta jelas menempatkan ekspektasi cukup tinggi pada sebuah debut penyutradaraan.

Apalagi film mulai beredar ketika bioskop juga mempunyai berbagai judul lain. Reza mengatakan pemilihan 20 Agustus telah dibicarakan bersama rumah produksi, distributor serta jaringan bioskop. Menurutnya, keputusan tanggal tayang lebih berkaitan dengan kebutuhan film daripada keinginan bertarung langsung dengan judul besar lain.

Ia juga mengakui bahwa angka akhir penonton akan menentukan bagaimana langkah berikutnya.

Ketika ditanya kemungkinan membuat sekuel atau proyek film lain, Reza mengatakan dirinya ingin terlebih dahulu melihat hasil Harusnya Horror dan penerimaan penonton.

Dengan posisi film yang baru mulai tayang pada 20 Agustus 2026, pencapaian 4,3 juta tersebut masih harus menunggu perjalanan di bioskop.

Harusnya Horror Bukan Film Horor yang Hanya Mengejar Ketakutan

Judul Harusnya Horror secara sengaja sudah memberi petunjuk bahwa film ini tidak sepenuhnya ingin mengikuti ekspektasi film horor konvensional.

Cinema XXI sendiri mengategorikannya sebagai comedy dan horror. Durasi film mencapai 106 menit.

Cerita mengenai hantu wibu yang lebih takut kepada manusia daripada manusia takut kepadanya membuat film memiliki jalur komedi sejak premis awal. Kelompok kreator konten kemudian memperlebar ruang tersebut dengan membawa perilaku internet, persahabatan dan pencarian popularitas ke dalam cerita.

Dua lagu yang digunakan dalam promosi juga menunjukkan rentang emosi yang ingin dimainkan. Tim memperkenalkan Kicau Mania dari Ndarboy Genk serta Untuk yang BersamaNya dari Mahalini sebagai bagian dari film. Pemilihan dua lagu dengan karakter sangat berbeda digunakan untuk mewakili sisi lucu dan sisi emosional dalam perjalanan tokoh.

Reza meminta penonton memperhatikan detail cerita, dialog serta berbagai hal kecil yang ditempatkan di dalam film. Ia juga mengatakan tim berusaha mendorong kemampuan mereka sejauh mungkin selama proses produksi.

Gugup Menjelang Hari Pertama Meski Tiket Screening Sudah Habis

Antusiasme besar ternyata tidak membuat Reza sepenuhnya tenang. Pada 19 Agustus 2026, beberapa jam menjelang hari penayangan reguler, ia mengaku masih gugup ketika bertemu penggemar di Yogyakarta.

Harusnya Horror menjadi film pertamanya sebagai sutradara layar lebar. Ia mengatakan berharap karya tersebut dapat diterima dan mendapatkan tempat di hati penonton.

Perasaan tersebut cukup mudah dipahami.

Selama proses produksi, sutradara masih dapat memperbaiki berbagai bagian. Gambar dapat dipilih, susunan adegan dapat diedit dan suara dapat disempurnakan. Ketika film sudah masuk bioskop, keputusan berpindah kepada penonton.

Mereka yang akan menentukan apakah komedinya bekerja, apakah karakter terasa dekat, apakah sisi emosional sampai dan apakah eksperimen kreatif Reza mampu bertahan sepanjang 106 menit.

Itulah titik ketika pencapaian Reza Arap dengan Harusnya Horror memasuki tahap berikutnya. Ia sudah berhasil membawa ide yang berasal dari lingkungan pertemanannya menuju produksi layar lebar, mengajak banyak temannya mencoba akting untuk pertama kali, memperoleh kebebasan besar dari rumah produksi, membangun kampanye yang ramai di internet dan menjual habis berbagai special screening. Mulai 20 Agustus 2026, ukuran berikutnya berada di tangan penonton bioskop Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *