Airbus Incar Perawatan Pesawat RI, Kertajati Ikut Disorot Airbus mulai menaruh perhatian lebih besar pada bisnis perawatan pesawat di Indonesia. Perusahaan dirgantara asal Eropa itu melihat pasar penerbangan Tanah Air bukan hanya sebagai tempat penjualan pesawat, tetapi juga sebagai ruang untuk memperluas ekosistem industri, mulai dari manufaktur komponen, penguatan sumber daya manusia, hingga Maintenance, Repair, and Overhaul atau MRO.
Minat tersebut terlihat dari penandatanganan Joint Declaration of Intent antara Kementerian PPN atau Bappenas dan Airbus di Jakarta pada Rabu, 6 Mei 2026. Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri kedirgantaraan nasional, termasuk sektor MRO dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kesepakatan itu diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi kedirgantaraan, meningkatkan sistem MRO, serta memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok dirgantara global.
Indonesia Dinilai Terlalu Besar untuk Sekadar Jadi Pasar
Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri penerbangan karena wilayahnya luas, berbentuk kepulauan, dan sangat bergantung pada konektivitas udara. Bagi Airbus, kondisi ini membuat Indonesia menjadi pasar yang tidak hanya membutuhkan pesawat, tetapi juga fasilitas pendukung yang kuat agar armada dapat terus beroperasi dengan aman dan efisien.
Proyeksi pasar penerbangan Indonesia sangat besar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030 menurut IATA. Ia juga mengutip perkiraan ICAO bahwa penerbangan domestik dan jumlah penumpang Indonesia akan meningkat signifikan hingga sekitar 7,4 juta penerbangan dan hampir 690 juta penumpang pada 2045.
Angka tersebut menjadi alasan kuat mengapa MRO perlu diperkuat. Semakin banyak pesawat yang beroperasi, semakin besar pula kebutuhan pemeriksaan rutin, penggantian komponen, perbaikan struktur, perawatan mesin, pembaruan kabin, dan pengelolaan catatan teknis pesawat.
Konektivitas udara butuh dukungan industri lokal
Menteri PPN sekaligus Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada konektivitas udara untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan mobilitas masyarakat. Ia menilai kerja sama dengan Airbus harus melampaui pengadaan pesawat, termasuk menyentuh pengembangan SDM, penguatan MRO, dan perluasan kapasitas industri nasional.
Pernyataan ini memperlihatkan arah pemerintah yang ingin mendorong industri dirgantara secara lebih luas. Pesawat yang terbang di Indonesia sebaiknya tidak hanya dibeli dari luar, tetapi juga dirawat, diperbaiki, dan didukung oleh tenaga serta fasilitas dalam negeri.
Airbus Tidak Hanya Jual Pesawat
Selama ini, publik lebih mengenal Airbus sebagai produsen pesawat komersial seperti A320, A330, A350, dan A380. Namun, bisnis dirgantara tidak berhenti pada penjualan unit. Setelah pesawat masuk layanan, operator membutuhkan dukungan teknis selama puluhan tahun.
Airbus ingin memperluas peran di dalam negeri
President Airbus Asia Pacific Anand Stanley menyatakan kerja sama terbaru dengan Indonesia menjadi babak lanjutan dari komitmen Airbus yang sudah berjalan sekitar 50 tahun. Ia menegaskan Airbus tidak hanya berfokus pada penjualan pesawat, tetapi juga pengembangan industri di dalam negeri. Kolaborasi Airbus dengan PT Dirgantara Indonesia telah dimulai sejak 1976 melalui produksi pesawat NC212 dan NBO 105.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa Airbus melihat Indonesia sebagai mitra industri. Dengan lebih dari 220 pesawat Airbus yang beroperasi di Indonesia, kebutuhan dukungan teknis, suku cadang, pelatihan, dan fasilitas perawatan menjadi semakin penting.
MRO menjadi bagian penting dari strategi
Anand Stanley menyebut Airbus juga terlibat dalam sektor pertahanan dan layanan pendukung seperti MRO. Ia melihat potensi besar Indonesia untuk mengembangkan bidang tersebut seiring pertumbuhan pasar penerbangan yang diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat pada 2045 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7,4 persen.
Bagi maskapai, keberadaan MRO di dalam negeri dapat memangkas waktu tunggu, mengurangi kebutuhan membawa pesawat ke luar negeri, dan menjaga jadwal penerbangan tetap stabil. Bagi industri nasional, MRO membuka peluang kerja berkeahlian tinggi, transfer teknologi, serta peningkatan standar teknik.
Kertajati Mulai Masuk Pembicaraan
Nama Kertajati, Jawa Barat, ikut mencuat dalam pembahasan pengembangan industri dirgantara. Kawasan ini memiliki bandara besar dan ruang pengembangan yang dapat diarahkan untuk aktivitas industri penerbangan, termasuk manufaktur komponen dan perawatan pesawat.
PTDI diharapkan naik kelas
Rachmat Pambudy berharap PT Dirgantara Indonesia dapat menjadi pemasok tingkat satu bagi Airbus. Ia menyebut peluang PTDI untuk memproduksi komponen utama seperti sayap pesawat A320, bahkan berkontribusi lebih luas pada pembangunan pesawat, dengan kemungkinan pendirian fasilitas produksi di Kertajati, Jawa Barat.
Harapan ini menunjukkan bahwa Kertajati tidak hanya dilihat sebagai bandara. Kawasan tersebut dapat menjadi simpul industri yang menyatukan produksi, perawatan, pelatihan, dan rantai pasok. Jika berjalan baik, Kertajati berpotensi menjadi titik penting dalam ambisi Indonesia memperkuat industri kedirgantaraan.
Satu pesawat membutuhkan jutaan komponen
Rachmat Pambudy menjelaskan satu unit pesawat seperti A320 membutuhkan sekitar 4 juta komponen dari 30 negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas industri nasional dipandang penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga masuk dalam rantai pasok dan penciptaan nilai tambah.
Besarnya jumlah komponen itu memberi gambaran bahwa peluang industri dirgantara sangat luas. Tidak semua komponen harus langsung berupa bagian besar seperti sayap atau badan pesawat. Industri lokal dapat masuk dari komponen kecil, alat bantu produksi, material, peralatan perawatan, layanan teknik, hingga pelatihan teknisi.
MRO Jadi Bisnis yang Makin Menggiurkan
Bisnis perawatan pesawat menjadi semakin menarik karena armada global terus bertambah dan usia pesawat yang beroperasi makin beragam. Pesawat baru membutuhkan dukungan teknis sesuai standar pabrikan, sementara pesawat yang lebih lama membutuhkan perawatan yang lebih intensif.
Asia Pasifik menjadi pasar layanan penerbangan besar
Airbus memperkirakan pasar layanan aviasi Asia Pasifik akan mencapai 138,7 miliar dolar AS pada 2044. Dalam laporan Global Services Forecast, Airbus menyebut pertumbuhan itu didukung lalu lintas udara dan pertumbuhan armada. Kawasan Asia Pasifik juga diperkirakan membutuhkan 19.560 pesawat penumpang baru dalam 20 tahun, atau 46 persen dari kebutuhan global pada periode tersebut.
Di sektor off wing maintenance, nilainya diproyeksikan naik dari 37,1 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 100 miliar dolar AS pada 2044. Airbus juga menyebut investasi besar mengalir ke infrastruktur MRO, termasuk pembangunan hanggar base maintenance baru di India, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Kebutuhan teknisi juga meningkat
Airbus memperkirakan Asia Pasifik membutuhkan lebih dari 1,06 juta profesional aviasi baru hingga 2044, mencakup 282.000 pilot, 302.000 teknisi, dan 473.000 awak kabin.
Kebutuhan teknisi menjadi sangat relevan bagi Indonesia. Fasilitas MRO tidak akan berjalan hanya dengan hanggar dan alat. Industri ini membutuhkan tenaga bersertifikat, insinyur, perencana perawatan, pengelola dokumen teknis, ahli avionik, mekanik struktur, dan teknisi mesin yang memahami standar keselamatan internasional.
Pemerintah Siapkan Jaringan Pusat Perawatan Pesawat
Rencana Airbus masuk lebih dalam ke sektor MRO berjalan seiring dengan langkah pemerintah memperkuat fasilitas perawatan pesawat nasional. Pemerintah sebelumnya menyiapkan jaringan pusat perawatan pesawat bersertifikat di beberapa wilayah strategis.
Enam pusat AMO disiapkan
Pemerintah Indonesia berencana membangun enam pusat perawatan pesawat terpadu bersertifikat Approved Maintenance Organization atau AMO di wilayah strategis. Fasilitas itu direncanakan berada di Batam, Kertajati, dan Kabupaten Tangerang melalui Bandara Budiarto untuk wilayah barat, Makassar untuk wilayah tengah, serta Timika dan Sentani untuk wilayah timur.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman menyebut pengembangan pusat AMO bertujuan memperkuat industri perawatan pesawat Indonesia agar dapat bersaing dengan negara Asia Tenggara lain.
Indonesia ingin kurangi ketergantungan pada luar negeri
Rencana pusat AMO juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada fasilitas luar negeri. Pemerintah ingin membangun zona khusus AMO yang dapat mempercepat pengembangan sektor perawatan, perbaikan, overhaul, dan modifikasi pesawat.
Selama ini, sebagian pekerjaan berat masih bisa bergantung pada fasilitas luar negeri karena keterbatasan kapasitas, sertifikasi, atau peralatan. Jika fasilitas dalam negeri diperkuat, maskapai memiliki lebih banyak pilihan dan biaya operasional dapat lebih terkendali.
PTDI Sudah Punya Jejak dengan Airbus
Kedekatan Airbus dan PTDI bukan hal baru. Keduanya telah bekerja sama lama dalam produksi dan dukungan pesawat. Kerja sama terbaru dengan Bappenas dapat memperluas ruang PTDI untuk meningkatkan kemampuan industri dan layanan perawatan.
MoU MRO sudah pernah diteken
Pada 2022, PTDI dan Airbus menandatangani nota kesepahaman untuk menjajaki perluasan kemampuan MRO helikopter dan pesawat militer. Dalam kerja sama itu, Airbus Defence and Space serta Airbus Helicopters bekerja bersama PTDI dalam program peningkatan layanan MRO agar operasional PTDI lebih efisien.
PTDI saat itu mendukung sejumlah armada yang dioperasikan TNI dan lembaga pemerintah, termasuk CN235 dan NC212i, serta produk kerja sama dengan Airbus Defence and Space seperti C295 dan H225M.
Keahlian pertahanan dapat meluas ke komersial
Pengalaman merawat pesawat militer dan helikopter dapat menjadi modal untuk memperkuat layanan lain. Namun, masuk ke pasar komersial membutuhkan standar, sertifikasi, jadwal kerja, dan kecepatan layanan yang sangat ketat. Maskapai menghitung waktu pesawat di darat karena setiap hari tidak terbang berarti biaya besar.
Jika PTDI dan mitra lokal mampu menaikkan kemampuan, Indonesia dapat memiliki fasilitas MRO yang tidak hanya melayani armada pemerintah, tetapi juga mendukung maskapai, operator charter, dan pelanggan regional.
GMF dan Pemain Lokal Ikut Menjadi Bagian Penting
Selain PTDI, Indonesia memiliki pemain besar lain di bidang perawatan pesawat, termasuk GMF AeroAsia. Kehadiran Airbus dapat memperkuat ekosistem jika kerja sama dilakukan dengan pembagian peran yang jelas antara pabrikan, fasilitas MRO lokal, perguruan tinggi, dan regulator.
GMF memperluas kerja sama teknis
GMF AeroAsia memperpanjang kerja sama teknis dengan Koharmatau untuk periode 2026 hingga 2028 dengan cakupan yang lebih luas. Kerja sama itu tidak lagi terbatas pada pesawat C 130 Hercules, tetapi mencakup Boeing 737 Series, Airbus A400M, Dassault Falcon 8X, dan Airbus Helicopters Super Puma AS332L1.
Kerja sama tersebut juga mencakup optimalisasi sumber daya perawatan pesawat melalui on the job training, pendidikan dan pelatihan, pengelolaan publikasi teknis, serta duplikasi dan fabrikasi alat pendukung perawatan.
Transfer pengetahuan menjadi modal utama
Industri MRO tidak bisa tumbuh hanya dengan membeli alat. Pengetahuan teknis harus dibangun melalui pelatihan, sertifikasi, pengalaman langsung, dan akses ke data teknis pabrikan. Karena itu, keterlibatan Airbus dapat membuka peluang pelatihan yang lebih dekat dengan standar pabrikan.
Jika teknisi Indonesia mendapat akses pelatihan berstandar global, peluang kerja di dalam negeri akan meningkat. Maskapai juga bisa lebih percaya menggunakan layanan lokal karena tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar internasional.
Mengapa Bisnis Perawatan Pesawat Penting untuk Maskapai
Maskapai membutuhkan pesawat yang selalu siap terbang. Perawatan pesawat bukan hanya kewajiban keselamatan, tetapi juga bagian dari perhitungan bisnis. Pesawat yang terlalu lama berada di hanggar dapat mengganggu jadwal, mengurangi pendapatan, dan menambah beban operasional.
MRO menentukan kesiapan armada
Setiap pesawat memiliki jadwal pemeriksaan berkala, mulai dari pengecekan ringan hingga pemeriksaan besar. Ada komponen yang harus diganti berdasarkan jam terbang, siklus pendaratan, atau usia pakai. Semua proses itu harus dilakukan sesuai ketentuan regulator dan pabrikan.
Jika fasilitas MRO tersedia lebih dekat, maskapai dapat mengatur jadwal perawatan dengan lebih efisien. Waktu penerbangan kosong untuk menuju fasilitas luar negeri dapat dikurangi. Koordinasi teknis juga lebih mudah karena lokasi berada dalam wilayah operasional utama.
Komponen dan dokumen teknis sangat menentukan
Perawatan pesawat juga bergantung pada ketersediaan suku cadang, alat khusus, dan dokumen teknis. Tidak semua perbaikan bisa dilakukan hanya dengan kemampuan mekanik umum. Banyak pekerjaan memerlukan lisensi, persetujuan pabrikan, perangkat ukur khusus, dan prosedur yang harus diikuti secara ketat.
Di sinilah pabrikan seperti Airbus memiliki posisi penting. Jika Airbus membantu membangun kapasitas lokal, fasilitas Indonesia dapat memperoleh standar kerja yang lebih kuat dan peluang melayani armada Airbus dengan cakupan lebih luas.
Kertajati Bisa Menjadi Simpul Baru
Kertajati punya ruang untuk berkembang sebagai kawasan pendukung industri penerbangan. Letaknya di Jawa Barat membuatnya dekat dengan basis industri, perguruan tinggi, dan jaringan logistik Pulau Jawa.
Bukan hanya bandara penumpang
Selama ini, pembahasan Kertajati sering berkisar pada penerbangan penumpang. Namun, pengembangan industri dirgantara dapat memberi fungsi tambahan. Kawasan bandara dapat diarahkan untuk logistik, hanggar, perawatan pesawat, pelatihan teknisi, manufaktur komponen, dan pergudangan suku cadang.
Jika Kertajati mampu menjadi basis industri, maka nilai strategisnya akan meningkat. Aktivitas bandara tidak lagi hanya bergantung pada jumlah penumpang, tetapi juga pergerakan industri dan layanan teknis yang berjalan sepanjang tahun.
Dekat dengan Bandung dan PTDI
Kedekatan Kertajati dengan Bandung juga penting karena PTDI berada di Bandung. Jika hubungan antara PTDI, Airbus, perguruan tinggi, dan pemerintah diperkuat, kawasan ini dapat menjadi jalur industri yang saling terhubung.
Bandung memiliki tradisi teknik dirgantara yang kuat melalui PTDI dan Institut Teknologi Bandung. Antara melaporkan Airbus akan berkolaborasi dengan PTDI dan ITB sebagai tindak lanjut dari JDI, dengan dukungan kementerian, BUMN, universitas, dan sektor swasta.
Tantangan yang Harus Dijawab Indonesia
Minat Airbus tidak otomatis membuat Indonesia langsung menjadi pusat MRO besar. Banyak syarat yang harus dipenuhi, mulai dari sertifikasi, ketersediaan teknisi, modal besar, rantai pasok, konsistensi regulasi, hingga kepercayaan maskapai.
Sertifikasi menjadi pintu utama
Fasilitas MRO harus memiliki izin dan sertifikasi yang sesuai. Untuk melayani operator global, fasilitas juga perlu memenuhi standar regulator internasional seperti EASA atau FAA, tergantung jenis pekerjaan dan pelanggan yang dituju. Tanpa sertifikasi kuat, layanan hanya akan terbatas pada pasar tertentu.
Pemerintah perlu memastikan proses sertifikasi berjalan ketat tetapi tidak berbelit. Industri perawatan pesawat sangat bergantung pada kepastian aturan, karena investasi hanggar, alat, dan pelatihan membutuhkan biaya besar.
Persaingan regional sangat ketat
Indonesia bukan satu satunya negara yang mengincar bisnis MRO. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam sudah memiliki kawasan industri aviasi yang berkembang. Pemerintah juga menilai pusat AMO Indonesia perlu bersaing dengan klaster seperti Seletar Aerospace Park di Singapura, Subang Aerospace Park di Malaysia, Don Mueang di Thailand, dan U Tapao di Vietnam.
Karena itu, Indonesia perlu menawarkan keunggulan yang jelas. Pasar domestik besar saja tidak cukup. Fasilitas harus tepat waktu, berkualitas, punya harga bersaing, dan dipercaya operator.
Peluang Besar untuk Tenaga Kerja Indonesia
Sektor MRO dapat membuka lapangan kerja berkeahlian tinggi. Tidak hanya mekanik pesawat, tetapi juga insinyur, analis data perawatan, pengelola logistik suku cadang, perencana produksi, teknisi avionik, auditor kualitas, dan instruktur pelatihan.
ITB dan lembaga pendidikan punya peran
Rencana kolaborasi Airbus dengan PTDI dan ITB menunjukkan bahwa pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari pengembangan industri. Indonesia membutuhkan kurikulum yang dekat dengan kebutuhan industri, bukan hanya teori teknik penerbangan.
Mahasiswa dan lulusan teknik dapat memperoleh jalur karier yang lebih jelas jika industri MRO tumbuh. Pelatihan bersertifikat, magang, dan kerja langsung di fasilitas perawatan pesawat dapat mempercepat kesiapan tenaga kerja.
Standar keselamatan harus menjadi budaya kerja
Industri aviasi tidak memberi ruang untuk pekerjaan asal jadi. Setiap baut, kabel, panel, catatan teknis, dan prosedur harus terdokumentasi. Kesalahan kecil dapat berakibat besar. Karena itu, budaya kerja presisi harus dibangun sejak pendidikan dan pelatihan awal.
Airbus dan mitra lokal dapat memainkan peran penting dalam membangun disiplin tersebut. Jika standar internasional benar benar diterapkan, tenaga kerja Indonesia bisa bersaing tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di pasar regional.
Airbus Melihat Peluang, Indonesia Perlu Menjawab dengan Kesiapan
Langkah Airbus melirik bisnis perawatan pesawat di Indonesia menunjukkan bahwa pasar domestik punya nilai besar. Jumlah pesawat yang beroperasi, proyeksi pertumbuhan penumpang, rencana penguatan AMO, keberadaan PTDI, serta kebutuhan teknisi membuat Indonesia menjadi lokasi yang menarik bagi industri MRO.
Kerja sama harus bergerak dari seremoni ke proyek nyata
Penandatanganan JDI menjadi langkah awal. Setelah itu, yang ditunggu adalah proyek nyata, mulai dari pelatihan, sertifikasi, penguatan fasilitas, daftar pekerjaan yang dialihkan ke dalam negeri, hingga kolaborasi produksi komponen.
Jika semua hanya berhenti pada pernyataan, peluang besar akan lewat begitu saja. Namun, jika pemerintah, Airbus, PTDI, ITB, GMF, regulator, dan pelaku swasta bergerak bersama, Indonesia dapat naik kelas dari pasar pengguna pesawat menjadi bagian lebih kuat dalam industri dirgantara.
Kualitas layanan menjadi penentu
Bisnis MRO sangat mengandalkan kepercayaan. Maskapai akan memilih fasilitas yang aman, cepat, sesuai standar, dan mampu menjaga jadwal. Airbus dapat membawa nama besar, tetapi keberhasilan di Indonesia tetap bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan.
Kertajati, Bandung, Batam, Tangerang, Makassar, Timika, dan Sentani dapat menjadi titik penting jika disiapkan dengan benar. Di balik minat Airbus, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk membuat perawatan pesawat menjadi salah satu pilar baru industri berteknologi tinggi di dalam negeri.






