GoPro Merger dengan Starman Optical, Bidik Data Center AI dan Pertahanan

Teknologi108 Views

GoPro Merger dengan Starman Optical, Bidik Data Center AI dan Pertahanan GoPro mengambil langkah besar yang dapat mengubah identitas bisnis perusahaan setelah lebih dari dua dekade dikenal sebagai produsen kamera aksi. Perusahaan asal Amerika Serikat tersebut menandatangani perjanjian merger definitif dengan Starman Optical, perusahaan swasta yang bergerak dalam teknologi optik dan fotonik.

Transaksi diumumkan pada 1 September 2026. Dalam rencana tersebut, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai secara keseluruhan sebesar US$285 juta atau sekitar US$1,14 per saham, dengan kemungkinan penyesuaian berdasarkan modal kerja bersih ketika transaksi selesai. Pemegang saham GoPro saat ini juga akan mempertahankan kepemilikan sekitar 10 persen pada perusahaan setelah transaksi.

Merger ini menarik perhatian karena Starman Optical bukan produsen kamera. Perusahaan tersebut bergerak pada optical transceiver yang digunakan untuk mendukung jaringan berkecepatan tinggi, termasuk infrastruktur data center yang menangani komputasi kecerdasan buatan.

GoPro kemudian tidak hanya ingin menjual kamera untuk konsumen. Perusahaan gabungan berencana memasuki bisnis data center AI, pemerintahan, pertahanan, robotika, serta kedirgantaraan dengan menggabungkan kemampuan optik Starman dan teknologi pencitraan GoPro.

Transaksi Belum Sepenuhnya Selesai

Meski diumumkan sebagai merger, transaksi GoPro dan Starman Optical belum resmi ditutup.

Perjanjian telah memperoleh persetujuan dari dewan direksi kedua perusahaan, tetapi masih membutuhkan persetujuan pemegang saham GoPro, regulator, serta pemenuhan sejumlah persyaratan transaksi lainnya. GoPro memperkirakan proses tersebut dapat selesai sebelum akhir 2026.

Dokumen yang disampaikan GoPro kepada Securities and Exchange Commission Amerika Serikat menunjukkan struktur transaksi melibatkan Action Acquisitions LLC sebagai perusahaan induk dan Starman Optical sebagai entitas yang akan bergabung dengan GoPro. GoPro akan tetap menjadi perusahaan yang bertahan secara hukum dalam susunan transaksi tersebut.

Karena itu, langkah ini berbeda dari pengumuman bahwa GoPro langsung berhenti beroperasi sebagai perusahaan kamera.

Selama transaksi belum selesai, operasi GoPro tetap berjalan seperti sebelumnya. Produk kamera, perangkat lunak, layanan cloud, dan langganan tetap dilayani.

Utang Sekitar US$92 Juta Akan Dilunasi

Bagian yang sangat penting dari transaksi berada pada kondisi keuangan GoPro.

Perusahaan menyatakan sekitar US$92 juta utang yang masih dimiliki GoPro akan dibayar penuh ketika transaksi ditutup. Setelah pembayaran tersebut, perusahaan gabungan diharapkan mempunyai neraca yang secara substansial bebas dari utang.

Langkah tersebut memberikan ruang keuangan yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi GoPro sebelum merger.

Laporan keuangan untuk kuartal kedua 2026 menunjukkan GoPro mempunyai kas dan setara kas sebesar US$27,3 juta pada akhir Juni. Pada periode tersebut, perusahaan mencatat saldo pokok utang agregat sekitar US$87,2 juta. Setelah akhir kuartal, GoPro juga memperoleh pinjaman tambahan US$20 juta pada Juli.

Tekanan keuangan tersebut membuat perusahaan membutuhkan langkah yang lebih besar daripada sekadar meluncurkan kamera baru.

Dengan utang yang dilunasi melalui transaksi, dana perusahaan dapat lebih banyak diarahkan kepada pengembangan produk, produksi, penelitian, serta pembangunan lini bisnis baru.

“Menurut penulis, nilai terpenting merger ini bukan hanya GoPro memperoleh pemilik mayoritas baru. Pelunasan utang memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk menjalankan perubahan bisnis tanpa membawa beban keuangan lama dalam jumlah yang sama.”

Pendapatan GoPro Turun 31 Persen

Merger muncul pada periode ketika bisnis kamera GoPro sedang berada dalam tekanan cukup berat.

GoPro membukukan pendapatan sekitar US$105 juta pada kuartal kedua 2026. Angka tersebut turun sekitar 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan kamera kepada konsumen juga melemah. Jumlah kamera yang terjual melalui berbagai saluran diperkirakan sekitar 291 ribu unit, turun sekitar 38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan dari perangkat keras tercatat sekitar US$76 juta. Jumlah tersebut turun hampir 40 persen dibandingkan kuartal kedua 2025.

Sementara pendapatan dari layanan dan langganan justru meningkat sekitar 11 persen menjadi US$29 juta.

Namun, kenaikan layanan belum cukup menutup penurunan bisnis perangkat keras.

GoPro akhirnya membukukan kerugian bersih US$51 juta pada kuartal kedua 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, kerugian bersih hanya sekitar US$16 juta.

DJI dan Insta360 Memberi Tekanan Berat

GoPro pernah hampir identik dengan kategori kamera aksi.

Namun, pasar tersebut kini jauh lebih kompetitif. DJI dan Insta360 terus memperluas portofolio kamera aksi, kamera 360 derajat, serta perangkat pencitraan kecil dengan peningkatan teknologi yang berlangsung cepat.

Reuters menyebut persaingan dari perusahaan China seperti DJI dan Insta360 menjadi salah satu tekanan terhadap GoPro. Harga komponen memori yang meningkat juga turut menekan perusahaan.

GoPro sendiri dalam laporan keuangan menyebut kondisi pasar konsumen global yang lebih lemah, persaingan yang semakin luas, tarif, serta harga dan ketersediaan memori dan semikonduktor sebagai beberapa faktor yang menekan bisnisnya.

Keadaan tersebut membuat mengandalkan kamera aksi saja menjadi semakin berisiko.

GoPro masih mempunyai merek kuat dan basis pengguna besar, tetapi perusahaan membutuhkan sumber pendapatan baru yang tidak seluruhnya bergantung pada konsumen membeli kamera setiap beberapa tahun.

Starman Optical Membawa Produk yang Sama Sekali Berbeda

Starman Optical merupakan perusahaan swasta Amerika Serikat yang bergerak dalam bidang optical photonics.

Produk yang menjadi pusat strategi merger adalah optical transceiver buatan Amerika Serikat.

Komponen tersebut digunakan untuk menyediakan konektivitas optik berkecepatan tinggi dalam jaringan komputasi modern. Pada data center AI, koneksi seperti ini digunakan untuk menghubungkan server, switch, sistem penyimpanan, serta berbagai perangkat komputasi dalam cluster besar.

NVIDIA menjelaskan optical transceiver menjadi bagian penting dari jaringan AI karena cluster kecerdasan buatan membutuhkan bandwidth besar, latensi rendah, efisiensi energi, serta konektivitas yang dapat menghubungkan ribuan hingga jutaan GPU.

Portofolio NVIDIA sendiri saat ini mencakup transceiver dan interconnect untuk kecepatan 100G, 200G, 400G hingga 800G.

Hal tersebut memberikan gambaran mengapa bisnis optik menjadi menarik.

Ketika jumlah GPU di sebuah data center bertambah, kebutuhan memindahkan data antarmesin ikut meningkat. Komputasi AI tidak hanya membutuhkan prosesor cepat. Jaringan yang menghubungkan seluruh prosesor juga harus mampu mengirim data dalam volume sangat tinggi.

GoPro Tidak Akan Membuat Server AI

Masuk ke bisnis data center AI tidak berarti GoPro akan berubah menjadi produsen server atau GPU.

Perusahaan lebih diarahkan masuk melalui komponen optik yang menopang jaringan data center.

Starman Optical akan membawa bisnis optical transceiver ke dalam portofolio GoPro. Transceiver tersebut menjadi pintu bagi perusahaan gabungan untuk melayani infrastruktur AI yang membutuhkan koneksi serat optik berkecepatan tinggi.

Perbedaannya cukup besar dibandingkan bisnis kamera.

Kamera GoPro mengumpulkan dan merekam data visual. Produk Starman membantu data berpindah melalui jaringan komputasi.

Keduanya tetap mempunyai hubungan dengan teknologi optik, tetapi pasarnya sangat berbeda.

Pembeli kamera GoPro adalah konsumen, pembuat konten, perusahaan produksi, atau pengguna profesional. Sementara pelanggan optical transceiver dapat berupa operator data center, perusahaan teknologi, penyedia cloud, kontraktor pemerintah, atau perusahaan yang membangun infrastruktur komputasi.

Pertumbuhan AI Membuat Bisnis Optik Semakin Penting

Kebutuhan jaringan data center berubah cepat ketika perusahaan membangun cluster AI berukuran semakin besar.

Sebuah sistem AI dapat menggunakan ribuan GPU yang harus bekerja secara bersamaan. Bila perpindahan data antara GPU terlalu lambat, kemampuan komputasi yang mahal tidak dapat dimanfaatkan secara penuh.

NVIDIA menyebut interconnect sebagai tulang punggung penting ketika cluster AI terus membesar. Permasalahan bandwidth, jarak, keandalan, dan konsumsi daya dapat menjadi hambatan bagi performa sistem.

Teknologi optik kemudian memainkan peran besar karena dapat membawa data berkecepatan tinggi melalui jarak yang lebih jauh dibandingkan sejumlah koneksi tembaga.

NVIDIA bahkan sedang memperluas penggunaan silicon photonics untuk jaringan AI dengan bandwidth sangat tinggi dan konsumsi daya lebih rendah.

Pasar inilah yang ingin dimasuki perusahaan hasil merger GoPro dan Starman.

Lebih dari 2.500 Paten GoPro Ikut Menjadi Modal

GoPro bukan hanya memiliki merek kamera yang dikenal secara global.

Perusahaan menyebut telah membangun portofolio lebih dari 2.500 paten Amerika Serikat sepanjang sekitar 24 tahun. Paten tersebut mencakup berbagai teknologi terkait pencitraan, optik, perangkat keras, serta teknologi yang dikembangkan melalui produk GoPro.

Merger dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan aset tersebut.

Selama ini banyak teknologi GoPro diterapkan dalam produk konsumen. Setelah merger, sebagian pengetahuan dan kekayaan intelektual tersebut dapat diarahkan kepada penggunaan komersial, pemerintahan, pertahanan, robotika, maupun kedirgantaraan.

Strateginya bukan sekadar menjual transceiver milik Starman menggunakan nama GoPro.

Perusahaan gabungan ingin mencari persilangan antara teknologi optik Starman, kemampuan pencitraan GoPro, serta kebutuhan sistem industri dan pemerintah.

Pertahanan dan Pemerintah Menjadi Sasaran Berikutnya

Data center AI hanya satu bagian dari rencana ekspansi.

GoPro secara resmi menyebut pertahanan, pemerintahan, robotika, serta kedirgantaraan sebagai sektor yang akan dibidik setelah transaksi selesai.

Nicholas Woodman, pendiri dan CEO GoPro, melihat merger sebagai kesempatan membangun perusahaan solusi pencitraan dan optik Amerika Serikat dengan cakupan yang lebih luas.

Sektor pertahanan memiliki kebutuhan besar terhadap kamera kecil, sensor, komunikasi optik, sistem robotik, drone, serta perangkat pencitraan dengan tingkat ketahanan tinggi.

GoPro memiliki pengalaman panjang membuat kamera kecil yang bekerja pada lingkungan ekstrem.

Pengalaman tersebut tidak otomatis membuat produknya siap digunakan untuk pertahanan. Persyaratan pemerintah dan militer berbeda dari perangkat konsumen. Namun, teknologi dasar pada optik, pemrosesan gambar, miniaturisasi, perangkat lunak, serta stabilisasi dapat dikembangkan untuk kebutuhan khusus.

Produksi di Amerika Serikat Menjadi Bagian Penting

Charles Tebele, CEO Starman Holding, menekankan rencana meningkatkan produksi komponen optik di Amerika Serikat.

Menurutnya, banyak perangkat keras penting untuk AI, optik, serta keamanan nasional masih dibuat di luar Amerika. Kombinasi Starman dan GoPro ditujukan untuk membawa sebagian produksi tersebut kembali ke dalam negeri.

Strategi ini dapat membuka peluang khusus pada kontrak pemerintahan dan pertahanan.

Pengadaan untuk sektor sensitif sering mempertimbangkan asal produksi, keamanan rantai pasok, serta ketergantungan kepada pemasok luar negeri.

Kemampuan memproduksi transceiver secara lokal dapat menjadi nilai penting ketika perusahaan menawarkan produk kepada instansi pemerintah Amerika Serikat.

Reuters juga mencatat kedua perusahaan berencana membawa sebagian produksi perangkat optik ke Amerika.

Bisnis Kamera GoPro Tidak Akan Dihentikan

Salah satu pertanyaan terbesar setelah merger diumumkan adalah apakah GoPro akan meninggalkan bisnis kamera aksi.

Jawabannya untuk saat ini adalah tidak.

GoPro secara resmi menyatakan akan terus mendukung produk konsumen yang sudah ada, layanan langganan, dan platform cloud. Perusahaan juga tetap berencana berinvestasi pada pengembangan produk dengan portofolio yang lebih luas.

Artinya, pengguna HERO, MAX, MISSION maupun produk GoPro lain tidak sedang menghadapi pengumuman bahwa lini kamera akan dihentikan.

Merger lebih diarahkan untuk membuat GoPro mempunyai dua kaki bisnis.

Satu berada pada produk pencitraan konsumen yang sudah dikenal selama bertahun tahun. Kaki lainnya diarahkan menuju optik, data center AI, dan teknologi untuk pelanggan komersial maupun pemerintah.

Keberhasilan pendekatan tersebut tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menjalankan dua bisnis yang mempunyai karakter pelanggan sangat berbeda.

Langganan dan Cloud Justru Menunjukkan Pertumbuhan

Di tengah penjualan kamera yang melemah, bisnis layanan GoPro memperlihatkan hasil yang lebih baik.

Pendapatan langganan dan layanan mencapai sekitar US$29 juta pada kuartal kedua 2026, meningkat 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bagian tersebut sudah menyumbang sekitar 28 persen terhadap total pendapatan perusahaan.

Tingkat pelanggan yang mengambil langganan bersama pembelian produk juga mencapai rekor 69 persen.

Angka ini penting karena layanan menghasilkan pendapatan berulang, tidak seperti kamera yang hanya menghasilkan pendapatan ketika perangkat terjual.

GoPro karena itu kemungkinan tetap mempertahankan dan mengembangkan cloud sebagai bagian dari ekosistem konsumennya.

Perusahaan membutuhkan pendapatan berulang untuk mengurangi ketergantungan kepada siklus peluncuran kamera.

GoPro Sudah Menghasilkan Pendapatan dari Lisensi Konten AI

Hubungan GoPro dengan AI sebenarnya sudah dimulai sebelum merger dengan Starman Optical.

Pada kuartal kedua 2026, GoPro mencatat sekitar US$2 juta pendapatan dari program lisensi konten AI. Nilai tersebut masuk dalam pendapatan layanan dan langganan perusahaan.

GoPro mempunyai kumpulan video sudut pandang orang pertama dalam jumlah sangat besar yang dihasilkan oleh ekosistem kamera selama bertahun tahun.

Jenis data seperti itu dapat memiliki nilai untuk pengembangan computer vision, robotika, dan model AI yang perlu memahami dunia melalui perspektif kamera.

Namun, program lisensi konten tersebut berbeda dengan bisnis Starman.

Lisensi konten menjual akses atau hak penggunaan data visual untuk kebutuhan AI. Starman menawarkan perangkat keras optik yang digunakan di dalam jaringan komputasi AI.

Setelah merger, GoPro berpotensi mempunyai keterlibatan pada dua sisi industri tersebut.

Merger Juga Menjadi Cara Menyelamatkan Neraca

GoPro memang menyampaikan visi ekspansi yang luas, tetapi kondisi keuangan tidak dapat dipisahkan dari keputusan merger.

Dalam enam bulan pertama 2026, GoPro mencatat kerugian operasi sekitar US$96,2 juta dan arus kas keluar dari aktivitas operasi sekitar US$47,4 juta.

Kas perusahaan turun dari US$49,7 juta pada akhir 2025 menjadi US$27,3 juta pada akhir Juni 2026.

GoPro juga sempat tidak memenuhi beberapa covenant keuangan dalam fasilitas kredit sebelum memperoleh waiver dari pemberi pinjaman pada Juli.

Dokumen perusahaan menyebut GoPro harus melakukan refinancing, penjualan, atau transaksi lain dalam periode tertentu untuk melunasi kewajiban fasilitas kreditnya.

Merger dengan Starman kemudian datang pada waktu yang sangat penting.

Pelunasan utang memberi perusahaan kesempatan mengurangi tekanan likuiditas sekaligus mencari sumber pendapatan baru.

“Ekspansi ke data center AI memang terlihat seperti perubahan besar, tetapi keputusan ini juga harus dilihat sebagai restrukturisasi keuangan. GoPro membutuhkan bisnis baru sekaligus neraca yang lebih sehat untuk tetap memiliki ruang bergerak.”

Pemegang Saham Lama Hanya Mempertahankan Sekitar 10 Persen

Struktur transaksi juga membawa perubahan besar terhadap kepemilikan.

Pemegang saham GoPro saat ini akan menerima uang tunai secara agregat US$285 juta dan mempertahankan sekitar 10 persen saham perusahaan setelah transaksi selesai.

Artinya, kendali mayoritas akan berpindah kepada pihak yang berada di belakang transaksi Starman.

Reuters menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai penjualan sekitar 90 persen kepemilikan GoPro kepada pihak Starman.

Meski demikian, GoPro berencana tetap diperdagangkan di Nasdaq.

Hal tersebut membuat transaksi ini berbeda dengan akuisisi konvensional yang langsung menghapus perusahaan target dari bursa.

Pemegang saham lama masih mempunyai eksposur terhadap perusahaan gabungan, tetapi kepemilikannya jauh lebih kecil.

Saham GoPro Langsung Bergerak Tajam

Pengumuman merger mendapat respons besar dari pasar.

Reuters melaporkan saham GoPro melonjak lebih dari 50 persen setelah transaksi diumumkan. Harga saham bahkan sempat bergerak di atas nilai pembayaran tunai US$1,14 per saham yang ditawarkan melalui kesepakatan.

Pergerakan tersebut menunjukkan investor menilai kepemilikan sekitar 10 persen pada perusahaan gabungan juga memiliki nilai tersendiri.

Namun, harga saham dapat berubah cepat dan tidak menjadi jaminan keberhasilan transaksi.

Merger masih harus memperoleh persetujuan pemegang saham serta regulator.

Selain itu, ekspansi dari kamera konsumen menuju optical transceiver untuk data center merupakan perubahan bisnis yang cukup besar sehingga hasil komersialnya tetap harus dibuktikan.

GoPro Kini Bukan Hanya Cerita tentang Kamera Aksi

GoPro memasuki 2026 sebagai perusahaan yang menghadapi penurunan pendapatan, persaingan kuat, kerugian besar, dan tekanan terhadap posisi kas.

Pada September, perusahaan justru mengumumkan salah satu perubahan strategis terbesar sejak berdiri.

Starman membawa optical transceiver dan kemampuan produksi di Amerika Serikat. GoPro membawa merek global, pengalaman optik dan pencitraan, platform cloud, teknologi kamera, serta lebih dari 2.500 paten Amerika Serikat.

Kombinasi tersebut diarahkan kepada pasar yang lebih luas daripada kamera aksi.

Data center AI membutuhkan jaringan optik yang semakin cepat karena jumlah GPU dan volume data terus meningkat. Pemerintah serta sektor pertahanan membutuhkan perangkat pencitraan dan optik yang dapat diperoleh melalui rantai pasok domestik. Robotika dan kedirgantaraan juga membutuhkan sensor serta kemampuan visual yang semakin canggih.

Kamera konsumen tetap berada di dalam perusahaan, tetapi posisinya kini menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas.

Bila merger memperoleh seluruh persetujuan dan ditutup sebelum akhir 2026, pekerjaan berikutnya jauh lebih berat daripada mengumumkan transaksi. GoPro dan Starman harus membuktikan bahwa teknologi yang selama ini berkembang di dua bidang berbeda dapat disatukan menjadi bisnis yang menghasilkan pertumbuhan baru, sementara pengguna kamera tetap memperoleh produk dan layanan yang membuat nama GoPro dikenal selama lebih dari dua dekade.